LANDASAN ILMIAH DAN PENELITIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN


PENDAHULUAN

Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang kajian khusus ilmu pendidikan dengan objek forma “belajar” pada manusia secara pribadi atau yang tergabung dalam suatu organisasi.

Setiap pengkajian ilmiah berusaha mencari kebenaran mengenai : hakekat sesuatu (ontologi),cara mendapatkan sesuatu (epistemologi), dan manfaat sesuatu (aksiologi). Dalam disiplin ilmi terapan, manfaat lebih diutamakan dari hakekat dan cara. Semua teknologi adalah disiplin terapan (Miarso, 2011;2).

Para teknolog pendidikan cenderung mengembangkan persepsi teknologi  pendidikan secara luas. Setiap teknologi adalah proses untuk meningkatkan nilai tambah (added value), sehingga perlu dihasilkan dan dimanfaatkan produk yang bervariasi, yang berada pada sistem yang luas.

Persepsi tentang teknologi pendidikan sampai saat ini masih beragam. Bahkan masih banyak diantara kita menggunakan persepsi sempit, dan berpendapat bahwa teknologi pendidikan tidak lain dari cara mengajar dengan menggunakan alat bantu rupa-rungu (audio visual aids). Memang pada awal perkembangan teknologi pendidikan sebagai suatu bidang kajian pada tahun 1950-an, audio visual aids merupakan ciri yang menonjol.

Banyak diantara kita yang membagi metodologi penelitian dalam dua jenis atau dikotomi, kuantitatif dan kualitatif. Padahal penelitian kuantitatif dan kualitatif saling mengisi.

Menurut Creswell, Denzin & Lincoln dalam  Miarso (2011) di katakan bahwa ada 2 pembagian penelitian dalam teknologi pendidikan yaitu positivistik dan pascapostivistik atau fenomenologik. Pendekatan positivistic dilakukan dalam pendekatan ilmu-ilmu eksakta dengan menggunakan pola statistik, yang didalamnya terdapat variabel yang dikontrol, pengacakan sampel, pengujian validitas dan realibilitas instrumen, dan ditujukan pada generalisasi sampel ke dalam populasi, Sedangkan pendekatan atau penelitian pascapositivistik/fenomenologi berakar pada penelitian sosial seperti bidang etnografi, studi kasus, studi naturalistik, sejarah, biografi, dan teori membumi (grounded theory) dan studi deskriptif (Miarso, 2011:209).

Melihat kenyataan inilah terasa perlu untuk diketahui “Apa yang menjadi landasan ilmiah dari penelitian teknologi pendidikan ditinjau dari pendekatan ilmiah dan paradigma filsafat?” dan “Bagaimana Penelitian Teknologi Pendidikan menurut perkembangan Paradigma penelitian TP?”

PEMBAHASAN

 

Landasan Ilmiah

Menurut Miarso (2011: 199), teknologi pendidikan merupakan suatu bidang kajian khusus ilmu pendidikan yang memiliki obyek forma “belajar” pada manusia baik secara pribadi maupun secara kelompok yang memiliki 3 pola pendekatan, yaitu :

1.   Isomeristik, yaitu pendekatan yang menggabungkan berbagai unsur yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang lebih bermakna.

2.   Sistematik dan sistemik.

Sistematik  yaitu dilakukan secara teratur dan menggunakan pola tertentu dan runtut, dan sistemik yaitu dilakukan secara menyeluruh, holistik atau komprehensif.

Landasan ilmiah yang menunjang keberadaan dan perkembangan teknologi pendidikan bidang studi adalah sebagai berikut:

1.      A.A Lumsidaine (1964)

Teknologi pendidikan merupakan aplikasi dari ilmu dan sains dasar, yaitu: ilmu fisika, rekayasa mekanik, optik, elektro dan elektronik, teknologi komunikasi & telekomunikasi, ilmu perilaku, ilmu komunikasi, dan ilmu ekonomi.

2.   Robert Morgan (1978)

Ada 3 disiplin utama yang menjadi fondasi teknologi pendidikan yaitu  ilmu perilaku, ilmu komunikasi,  dan ilmu manajemen.

3.   Donald P. Eli (1983)

Teknologi pendidikan meramu sejumlah disiplin dasar dan bidang terapannya menjadi suatu prinsip, prosedur dan keterampilan. Disiplin yang memberikan kontribusi adalah :

  1. basic contributing discipline: komunikasi, psikologi, evaluasi dan menajemen.
  2. related contributing field : psikologi persepsi, psikologi kognisi, psikologi sosial, media, sistem dan penilaian kebutuhan.

4.   Barbara B. Seels & Rita C. Richey (1994):

Akar intelektual teknologi pembelajaran berasal dari disiplin lain meliputi: psikologi, rekayasa, komunikasi, ilmu komputer, bisnis, dan pendidikan.

Secara umum perkembangan landasan ilmiah teknologi pendidikan bersifat ekletik, yaitu berasal dari berbagai sumber dan ditinjau dari berbagai segi atau sudut pandang.

Pada awal perkembangan teknologi pendidikan dimana media merupakan unsur yang menonjol, mayoritas yang berkaitan dengan media. Hampir separuh penelitian Wilbur Schramm (1977) menggunakan desain eksperimen yang menciptakan kondisi laboratorik melalui pengontrolan variabel tertentu, dan menguji hasilnya dengan statistik yang canggih.

Menurut Richard Clark (1983) kebanyakan riset mengenai media banyak yang salah, sehingga harus ada perhatian khusus pada riset dan teori preskriptif.

William J. Gephart (1972) menyarankan suatu taksonomi strategi empirik untuk memecahkan masalah yang meliputi empat level, yaitu: filsafat ilmu, metode umum pemecahan masalah, strategi operasional, dan sekuens prosedural.

 

Landasan Berpikir

Strategi memperoleh kebenaran ilmiah dapat dilakukan dengan pengembangan, penelitian, dan penilaian (Miarso, 2011:5). Kebenaran itu dapat dibedakan dalam empat lapis, yaitu:

  1. Kebenaran inderawi, yang diperoleh melalui panca indera yang dapat diperoleh oleh siapa saja.
  2. Kebenaran ilmiah, yang diperoleh melalui kegiatan sistematik, logis, dan etis oleh mereka yang terpelajar.
  3. Kebenaran falsafi, yang diperoleh melalui kontemplasi mendalam oleh orang yang sangat terpelajar.
  4. Kebenaran religi, yang diperoleh dari Yang Maha Pencipta.

Kajian tentang teori kebenaran ilmiah telah dibahas sejak periode filsafat Yunani kuno dan selalu mengalami perkembangan hingga zaman sekarang. Aliran yang membahas tentang teori kebenaran ini antara lain:

  1. Idealisme (400 SM)

Paham idealisme dipelopori oleh Plato, berpendapat bahwa pengindraan manusia merupakan sesuatu yang tidak dapat dipercaya untuk dijadikan suatu pengetahuan.

  1. Realisme (384-322 SM)

Dipelopori oleh Aristoteles berpendapat bahwa dunia berjalan atas dasar hukum alam yang tetap, yang dapat ditemukan dengan melalui observasi dan pemikiran.

  1. 3.      Empirisme

Dipelopori oleh Francis Bacon dan John Locke, berpendapat bahwa pengetahuan dibangun melalui proses induktif dari pengalaman.

  1. 4.      Rasionalisme

Dipelopori oleh Immanuel Kant, berpendapat bahwa pengetahuan dapat dibangun baik melalui proses induktif dari pengalaman, maupun dengan proses deduktif menggunakan penalaran.

Pendekatan Penelitian

            Menurut Eichelberger dalam Miarso (2011:211), ada tiga paradigma filsafat yang melandasi metodologi pengetahuan yaitu: positivistik, fenomelogik, dan hermeneutik.

Positivistik: landasan ini memberikan gagasan keberadaan besaran yang dapat diukur, dan penulis hanya sebagai pengamat yang obyektif. Pokok dari paham ini adalah “jika sesuatu itu ada maka, sesuatu itu dapat diukur”. Penelitian ini misalkan di lakukan secara laboratorik dan berulang. Dari penelitian ini melahirkan pengajaran terprogram “mesin pengajaran” (teaching machine). Fakta-fakta yang didapat dalam penelitian ini diuji secara empirik. Misalkan kita akan melakukan pengukuran tentang motivasi belajar maka dapat dijabarkan ke dalam indikator variabel seperti motivasi belajar, cara belajar, usaha yang dilakukan, persaingan dan lain-lain. Data-data yang diperoleh harus diubah ke dalam bentuk angka-angka yang dapat dihitung secara statistik. Paham positivistik saat ini sangat dominan dalam penelitian khususnya dalam penelitian bidang IPA. Pendekatan ini paling dominan dalam metode ilmiah.

Fenomenologik, dikembangkan oleh matematikawan Jerman, Edmund Husserl (1850 – 1938). Paham ini mengutamakan pada pengalaman dan kesadaran yang disengaja. Jadi pengalaman bukan saja pada interaksi dengan lingkungan belajar tetapi melainkan pelajaran yang diperoleh dalam rentang waktu tertentu. Untuk mendapatkan pengalaman diperlukan pemikiran, perasaan, tanggapan, dan berbagai ungkapan, tanggapan dan berbagai ungkapan psikologis atau mental.

Paradigma fenomenologik adalah akal sehat (common sense) yang oleh para penganut positivistik dianggap sebagai sesuatu yang kurang ilmiah. Fenomelogik tidak semata-mata berpangku pada data dan informasi yang ada tetapi mengadopsi pengalaman khusus menjadi umum, konkrit menjadi abstrak yang mempunyai sifat holistik. Semua diungkapkan secara naratif dengan memberikan uraian yang rinci dan mengenai hakikat suatu obyek atau konsep kebenaran ini syarat dengan nilai.

Hermeneutik dikembangkan oleh filosof Jerman, Wilhelm Dilthey yang memberikan ciri bahwa pencarian kebenaran dengan menafsirkan atas gejala yang ada. Sejarawan menafsirkan legenda, artefak, naskah kuno dengan menggunakan kondisi yang ada saat ini. Demikian juga para ahli tafsir kitab suci menafsirakan ayat-ayat yang ada dengan keadaan yang tren saat ini. Ahli hukum juga memberikan tafsiran pada ayat pada kitab hukum dan yurisprudensi dengan mempertimbangkan  asas keadilan dan atau manfaat. Kebenaran ilmiah dalam paradigma ini tidak analitik dan holistik melainkan sinkretik, yaitu memadukan pendapat yang berlawanan.

Di bawah ini perbandingan antara ketiga paham .

           Positivistik

Fenomenologik

Hermeneutik

Analitik

Holistik

Sintetik

Nomotetik

Ideografik

Interpretatik

Deduktif

Induktif

Sinkretik

Laboratorik

Empirik

Empatik

Pembuktian dengan Logika

Pengukuhan pengalaman

Penafsiran yang tidak memihak

Kebenaran Universal

Kebenaran bersifat unik

Kebenaran yang diterima

Bebas Nilai

Tidak bebas nilai

Tidak bebas nilai

Pendekatan Pascapositivistik

Kebenaran pascapositivistik akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan sedemikian rupa. Dan keadaan ini akan terus mengalami perkembangan sehingga menemukan hal-hal yang baru yang lebih bersifat inovatif. Dalam dunia pendidikan kebenaran pascapositivistik yang terbaru dan terus mengalami perkembangan adalah masalah model-model pembelajaran seperti model pembelajaran berkelompok, model pembelajaran langsung dan model pembelajaran kontruktivis. Perkembangan ini akan terus bertambah seperti quantum learning dan quantum teaching yang merupakan produk-produk inovatif dalam penelitian teknologi pendidikan. Pendekatan pascapositivistik cenderung menggunakan teori secara bervariasi. Kebanyakan menggunakan teori sebagai “jendela” untuk mengamati gejala yang ada,  dan berdasarkan data empirik dari lapangan yang berhasil dikumpulkan, dianalisis dan disentesiskan dalam bentuk teori sebagai teori yang membumi. Dengan kata lain, tidak berusaha untuk membuktikan teori. Pendekatan ini senantiasa memandang manusia sebagai mahkluk yang unik, oleh karena itu dalam penelitian untuk memecahkan masalah belajar misalnya, penelitian ini cenderung menggunakan landasan teori belajar konstruktivis. Teori ini secara ringkas menyatakan bahwa Setiap orang mengkonstruk (membangun) pengetahuan, sikap atau keterampilan berdasarkan pengalaman, pengetahuan yang telah ada sebelumnya, serta keserasian dalam lingkungannya. Jadi bersifat subyektif. Namun kalau apa yang dibangunnya itu dapat diterima oleh lingkungannya, maka terjadilah gejala yang dikenal dengan inter-subyektivitas. Pendekatan positivistik pada dasarnya menggunakan teori dalam merumuskan hipotesis dan pertanyaan penelitian, dan kemudian berusaha membuktikannya. Teori dianggap sebagai penjelasan dan peramalan ilmiah (scientific explanation and prediction).

 

Kedudukan Penelitian pada  Teknologi Pendidikan.

Menurut Sukmadinata (2008 : 2), Minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian termasuk dalam mengembangkan teknologi pendidikan sebagai bidang kajian.

Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan menimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang teknologi pendidikan baik yang berkenaan dengan landasan perkembangannya, sejarah dan berbagai aspek yang terkait dengan kawasan teknologi pendidikan. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam. Oleh karena itu, penelitian menjadi pilihan untuk menguraikan ketidakjelasan tersebut .

Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau curiousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komprehensif. Pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari dorongan curiousity tersebut juga berlaku dalam teknologi pendidikan sebagai bidang kajian. Pertanyaan itu misalnya, bagaimana mengembangkan teknologi pendidikan, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas teknologi pendidikan, dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban dari berbagai pertanyaan itu tentunya harus lahir dari proses analisa berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah. Untuk kepentingan itu, maka penelitian dalam teknologi pendidikan berkedudukan sebagai alat untuk menyediakan data-data ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya.

Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Dari hasil penelitian, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Berangkat dari kerangka pikir tersebut di atas, maka berlaku pula dalam mengembangkan domain/kawasan teknologi pembelajaran. Sebab disadari bahwa setiap bidang kajian termasuk teknologi pembelajaran dapat berkembang secara maksimal bila didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian merupakan salah satu bentuk sistematis dari kegiatan pengkajian ilmiah. Jadi penelitian dalam domain/kawasan teknologi pendidikan berkedudukan sebagai model pengkajian ilmiah yang sistematis untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam domain/kawasan teknologi pendidikan. Disamping itu, lewat penelitian akan dapat diketahui mengenai kelayakan dan efektifitas berbagai inovasi baru yang ditemukan dan dikembangkan pada ke lima kawasan teknologi pendidikan. Contohnya, pada kawasan desain. Ciri utama desain adalah adanya dugaan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedurnya didasarkan pada hasil penelitian. Misalnya, kita ingin mengembangkan sebuah model desain pesan yang dapat dipergunakan pada pembelajaran anak-anak tuna netra.

Maka dalam proses pengembangan sampai validasi produk harus dilakukan secara sistematis melalui mekanisme penelitian yang terencana dengan prosedur yang ketat pula. Hal ini dilakukan agar model desain pesan yang tengah kita kembangkan benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Paradigma Penelitian Teknologi Pendidikan

Penelitian teknologi pendidikan tentang perbandingan media sudah banyak dilakukan sejalan dengan aplikasi teori behaviouristik, kemudian merambah ke arah perspektif media dan kognitif dan terakhir ke paradigma konstruktivistik. (Setyosari, 2012)

Paradigma  TEP 1977, telah memberi warna kajian TEP sebagai bidang garapan teori, praktek, kelembagaan, dan sumber belajar. Menurut AECT 1977 dalam Setyosari, teknologi pendidikan adalah sebuah proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merencanakan, mengeimplementasikan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah-masalah yang melibatkan seluruh aspek manusia.

Perubahan terjadi setelah terjadi paradigma 1994. Menurut Seels dan Richey dalam Setyosari (2012) definisi teknologi pembelajaran adalah  teori dan praktek, merancang, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, dan mengevaluasi proses-proses dan sumber-sumber untuk belajar.

Definisi TEP 2004 dalam Setyosari (2012), menyatakan bahwa “Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropiate technological processes and resources.”Dalam istilah kajian memuat pemahaman teoritik dan praktek tentang teknologi pendidikan, menuntut konstruksi dan penyempurnaan yang dilakukan secara terus menerus melalui upaya penelitian dan praktek secara reflektif. Artinya penelitian tidak hanya melalui kuantitatif dan kualitatif saja tapi juga melibatkan bentuk-bentuk analisis yang lain misalnya, analisis inkuiri seperti analisis teoritik dan filosofis, investigasi historis, proyek pengembangan, analisis kesalahan, analisis sistem, dan evaluasi. (setyosari, 2012)

KESIMPULAN

  1. Perkembangan paradigma filsafat dan pendekatan penelitian ilmiah mendasari penelitian teknologi pendidikan.
  2. Penelitian teknologi pendidikan harus mengikuti perkembangan paradigma Penelitian ilmiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s